Minor Thoughts

Sisi Positif Dari Penderitaan

3 September 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jika kita membaca sekilas dari judul di atas pasti akan terbersit pertanyaan “ah, mana mungkin ada sisi positif dari sebuah penderitaan?” Biasanya penderitaan menimbulkan kesedihan, kesengsaraan, perasaan atau batin yang tertekan, dan sebagainya. Memang sulit untuk melihat sisi lain dari penderitaan yang membuat kita merasa sengsara. Tapi mungkin pemikiran minor ini dapat menjadi renungan yang dapat menambah cara pandang kita terhadap penderitaan.

Dalam Injil Lukas 17:11-19 tertulis kisah yang mungkin pernah kita dengar, yaitu tentang sepuluh orang kusta di perbatasan Samaria dan Galilea. Kesepuluh orang kusta ini berteriak kepada Yesus dari kejauhan mohon agar mereka disembuhkan dari penyakit kusta yang membuat mereka menderita. Ketika Yesus memerintahkan mereka untuk pergi kepada para imam, sembuhlah mereka dari penyakit kusta. Namun sayangnya, dari sepuluh orang tersebut hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur dan berterima kasih. Satu orang itu adalah orang Samaria, sementara sembilan lainnya adalah orang Yahudi.

Tema yang biasa diangkat dari perikop tersebut adalah betapa manusia seringkali lupa kepada Allah untuk mengucap syukur mana kala kita mendapati apa yang kita inginkan. Tetapi ternyata ada hal lain yang juga menarik untuk dipelajari bersama dari perikop ini. Secara tegas Lukas menuliskan bahwa orang yang kembali untuk mengucap syukur adalah orang Samaria yang di dalam Alkitab tercatat sebagai bangsa yang dibenci oleh bangsa Yahudi. Bahkan ketika orang Yahudi tiba-tiba melihat orang Samaria dari kejauhan, mereka akan berjalan memutar menghindari orang Samaria tersebut. Namun melihat kepada sepuluh orang kusta tersebut, justru mereka bisa hidup bersama, berupaya untuk saling tolong menolong untuk menopang satu sama lain dalam penderitaan yang mereka alami.

Sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama, khususnya kitab Imamat 13:45-46 bahwa ada perintah agar orang yang menderita kusta haruslah berpakaian cabik-cabik, mengurai rambutnya, menutup bagian bawah wajahnya, dan berseru: “Najis! Najis!” Belum lagi adanya perintah bahwa selama menderita kusta ia harus tinggal terasing di luar perkemahannya, tidak berkeliaran dekat orang-orang yang sehat.

Bisa kita bayangkan betapa menderitanya orang-orang kusta pada masa itu. Ketika mereka harus terpisah dari keluarga, terpisah dari lingkungan yang normal, bahkan harus hidup secara mandiri dalam kesusahan mereka. Belum lagi ketika mereka harus menghadapi sikap orang normal yang seolah-olah jijik terhadap mereka, padahal mungkin sebelumnya orang tersebut memiliki kedudukan sosial yang cukup tinggi. Dengan demikian kehidupan mereka menjadi terisolir dan secara tidak langsung diakui sebagai masyarakat kelas dua.

Kembali kepada perikop tersebut, sekali lagi Lukas menegaskan bahwa di dalam situasi yang membuat orang-orang kusta mengalami penderitaan lahir dan batin, segala perbedaan yang muncul ketika mereka sehat menjadi lenyap. Tidak ada orang Yahudi atau orang Samaria. Tidak ada perbedaan keyakinan. Tidak ada perbedaan pandangan politik. Tidak ada perbedaan budaya. Tidak ada perbedaan suku dan ras. Hanya ada rasa kebersamaan untuk saling menopang satu dengan yang lain. Hanya ada satu tujuan untuk dapat bertahan hidup dalam situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka. Di dalam penderitaan, mereka memiliki kebersamaan yang kuat tanpa membeda-bedakan keyakinan, budaya, politik, dan sebagainya. Inilah sisi positif dari sebuah penderitaan.

Menarik juga untuk direnungkan bahwa hal ini ternyata tidak hanya terjadi dalam kehidupan manusia namun juga dalam dunia hewan. Dalam beberapa film yang mungkin pernah kita lihat, hewan-hewan dari yang buas sampai yang jinak akan bersama-sama melarikan diri ke tempat yang lebih aman ketika mereka mendeteksi adanya bencana alam yang akan memusnahkan mereka. Penderitaan mendatangkan rasa kebersamaan.

Pada masa lalu, bangsa Indonesia merasakan penderitaan akibat penjajahan Belanda dan Jepang, yang akhirnya melahirkan rasa ’senasib sepenanggungan’. Sumpah Pemuda merupakan bukti nyata kebutuhan untuk bersatu dan berjuang bersama mengalahkan penindasan oleh penjajah dan memperoleh kemerdekaan tanpa memandang perbedaan suku, ras, dan keyakinan.

Hal yang lebih sederhana juga dapat kita lihat dalam dunia mahasiswa dimana dikenal adanya Ospek yang harus dijalani para mahasiswa baru. Biasanya pada saat itu para mahasiswa baru bersatu bahu membahu untuk memenuhi semua persyaratan yang diajukan oleh para senior mereka, bahkan persyaratan yang aneh sekalipun. Contoh lain lagi adalah rasa kebersamaan yang muncul ketika kita berada di luar negeri, jauh dari orang-orang yang memiliki budaya dan bahasa yang sama. Biasanya kebersamaan kuat muncul pada komunitas sebangsa pada sebuah negara asing agar mereka bisa mengatasi kerinduan terhadap negeri asal mereka.

Sayangnya pada masa sekarang sering kita lihat justru perbedaan keyakinan, politik, budaya membuat jurang sosial menjadi semakin terpisah. Rasa kebersamaan dan kesatuan yang dulu digaungkan para pejuang juga telah mengalami degradasi yang menurun tajam. Kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan bermasyarakat, hubungan dalam keluarga, akhirnya menjadi rusak karena kurangnya rasa kebersamaan. Timbulnya rasa curiga, merasa diri paling benar, dan penghakiman sepihak terhadap seseorang atau sekelompok orang pada akhirnya membawa dampak kepedihan dan kesengsaraan terhadap orang atau sekelompok orang tadi. Kita pun bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berperan dalam intrik yang menyengsarakan orang atau sekelompok orang tersebut. Tanpa ada klarifikasi kebenaran kita mencurigai orang lain, menuduh dan kadang kita juga meneror orang dengan asumsi kita yang sempit dan masih jauh dari kebenaran sebuah masalah. Ironisnya kita senang ketika berhasil membuat orang lain menderita.

Namun bukan berarti kita harus mengalami penderitaan yang sama dengan orang lain supaya kita bisa memiliki rasa kesatuan dan kebersamaan. Bukankah seharusnya kita menjadi orang-orang yang bisa merasakan penderitaan orang lain? Memiliki empati untuk melihat penderitaan yang orang lain rasakan. Bukankah ketika kita hidup di dunia pada dasarnya kita juga mengalami penderitaan, terlepas dari kerumitan penderitaan yang kita alami? Bahkan ada ajaran yang menyatakan kita perlu untuk menangis bersama orang yang menderita dan tertawa bersama orang yang bersukacita.

Bayangkan apabila kita mampu berempati terhadap penderitaan orang lain. Bayangkan apabila kita mampu terbuka dan menerima perbedaan-perbedaan yang terjadi di sekitar kita. Tidak terburu-buru menuduh dan mencurigai orang lain. Tidak menghakimi dan membuat orang lain sengsara. Bukankah hidup ini menjadi lebih indah? Bukankah dengan demikian kita mampu menghilangkan perbedaan-perbedaan, cara pandang sempit, dan akhirnya berdampak pada kuatnya rasa kebersamaan, kesatuan, dan persaudaraan? Bukankah kita bisa mewujudkan kedamaian dalam lingkungan kita, bahkan terlebih dalam hati kita?

But, well, that’s my minor thought… ah, seandainya…

→ Tinggalkan KomentarKategori: renungan
Ditandai: , , ,

Pengaruh Buku Novel

7 Agustus 2008 · 1 Komentar

Sudah beberapa hari ini saya kembali tergoda untuk membaca Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa. Alhasil, tiap malam saya mulai membaca beberapa bab sebelum tidur. Hingga tadi malam, saya sudah menyelesaikan membaca hampir 200 halaman pertama dari Buku Pertama. Bab terakhir yang saya baca adalah saat dimana Takuan (biarawan Zen) berhasil membujuk Takezo untuk menyerah dan mengikatnya di pohon kriptomeria selama dua puluh hari. Hal yang membuat saya kembali tertarik adalah bagaimana Takuan berani berargumen dengan Takezo dan Aiko Tanzaemon, kapten samurai berjenggot jarang yang ditugasi menangkap Takezo. Argumen Takuan benar-benar “mengena sasaran” dan mampu “menyerang” Takezo dan Tanzaemon tanpa menggunakan kekerasan sama sekali. Hanya bermodalkan keberanian menyampaikan kebenaran. Sampai di situ, saya berpikir “wah, keren nih”. Betapa kebenaran itu seumpama pedang bermata dua, yang tajam dan menusuk ke dalam hati. Betapa sakitnya benar-benar membuat hati seseorang bisa hancur lebur, remuk redam, pecah berkeping-keping (walah…).

Sebenarnya hingga saya bangun dan berangkat kerja tadi pagi, bayangan kata-kata, emosi, dan gambaran tentang Takuan masih menempel di kepala saya. Hingga akhirnya terjadilah sesuatu yang membuat saya seperti merasa dirasuki oleh “roh” Takuan.

Dalam perjalanan ke kantor, seperti biasa saya dan istri “membunuh” jenuh macet Jakarta dengan ngobrol. Obrolan kami sampai pada bagian yang menceritakan kondisi salah satu anggota keluarga besar kami. Istri saya cerita bawa saudara kami itu merasa keberatan dengan pernyataan dari anggota keluarga lain yang terkesan mendiskreditkan keluarganya. Saya dan istri menyadari bahwa latar belakang keluarga orang yang kami bicarakan memang berbeda dengan keluarga kami berdua. Namun saya dan istri memiliki penilaian yang berbeda dalam hal ini. Saya lebih memilih menyatakan empati kepada saudara kami tadi, sementara istri saya lebih memilih untuk mengabaikan apa yang kira-kira dirasakan saudara kami tadi, mengingat fakta-faktanya memang menunjukkan hal yang berbeda dengan kebiasaan dan kondisi yang ada dalam keluarga kami.

Nah, entah bagaimana, saya pun seperti ‘dirasuki’ ‘roh’ Takuan pada waktu menyampaikan opini saya kepada sang istri tercinta. Dengan semangat tinggi saya menyampaikan tentang perlunya memahami latar belakang kehidupan saudara saya tadi dan keluarganya. Memahami penilaian dirinya terhadap keluarga besarnya. Memahami akan kebanggaan yang tersisa dalam dirinya. Sehingga akhirnya saya sampaikan kepada istri kesimpulan bahwa kita perlu mempertimbangkan dirinya lebih luas sebelum menyampaikan pernyataan yang akan membuat dia salah mengerti, atau bahkan menimbulkan sakit hati dalam dirinya. Dampaknya jelas, tambah saya, bahwa bisa jadi saran-saran yang disampaikan kepadanya akan tidak efektif dan kontra produktif.

Namun ternyata ‘roh’ tadi membuat saya jadi berlebihan dalam menyampaikan opini, sehingga secara tidak sadar menyentuh pribadi istri saya dan membuat dia tersinggung. Meskipun saya sudah mengklarifikasi, namun nasi sudah menjadi bubur. Sepanjang perjalanan setelah menurunkan dia dikantornya dan menuju ke kantor saya, tak habis-habisnya saya berpikir kenapa saya jadi seperti itu. Pendekatan yang “bukan gue banget”. Namun saya tetap berpikir bahwa paling tidak ada beberapa poin yang saya anggap benar sudah saya sampaikan kepada istri dan mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan dirinya (hehe… sampai saat saya menulis ini pun saya masih nyengir-nyengir sendiri memikirkan kebodohan saya… maap ya, istriku, hehe…).

Kembali ke Novel Musashi tadi.

Kadang saya merasa betapa alam bawah sadar kita begitu rapuh. Mudah terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang kita alami dalam jangka waktu relatif pendek. Kita bisa terpengaruh oleh apa yang kita baca, tokoh dalam novel, perkataan, gaya bahasa, bayangan tingkat intelektualitas tokoh dalam novel, atau bahkan penulisnya (termasuk penulis-penulis buku non-fiksi).

Bahkan kita bisa terpengaruh oleh hal-hal lain selain buku. Contoh yang mudah adalah kebiasaan saya setelah bermain game, khususnya balapan ala Need for Speed yang kadang-kadang saya mainkan. Biasanya setelah main game itu, kebiasaan menyetir saya bisa berubah dari yang kalem menjadi seradak-seruduk ala sembalap. Bukan sekali dua kali saya mengalami hal tersebut.

So, my minor thought is…

Jika seseorang mengalami kejadian yang baik-baik, seperti bertemu dengan orang yang selalu berbicara baik, nggak nggosip, nggak bicara hal-hal yang negatif, selalu bersikap sopan, ramah, suka menolong (halah), dsb; atau dengan kata lain terpengaruh suasana dan hal-hal baik yang ada disekitarnya, maka bisa jadi alam bawah sadarnya terpengaruh pula oleh hal-hal yang baik. Hmm… alangkah senangnya menjadi orang seperti itu.

Tapi akhirnya saya pikir lagi, bahwa lebih baik dan lebih menyenangkan menjadi orang yang bisa memberi pengaruh positif kepada orang lain. Meskipun saya menyadari menjadi orang seperti itu bukan hal yang mudah. Tapi paling tidak ketika kita berani mencoba, maka ada nilai lebih yang sudah kita dapat. Iya kan?

→ 1 CommentKategori: keluarga
Ditandai: , , ,

Selamat Jalan, Teman

21 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejak minggu yang lalu saya cukup tertarik dengan berita pembunuhan mutilasi di Koran Tempo, dan mengikuti perkembangannya setiap saat melalui koran maupun internet. Menarik karena pembunuhan tersebut dilakukan sangat sadis dengan memotong-motong bagian tubuh korban, dan ahli forensik menunjukkan bagaimana emosi si pembunuh saat mengeksekusi korbannya melalui bentuk potongan-potongan tubuh korban. Lebih menarik lagi karena pembunuhan itu dilakukan seorang gay yang bermaksud membela pacarnya, sebuah dampak cinta platonis pasangan sejenis.

Namun ketertarikan itu berubah menjadi sebuah keprihatinan ketika saya menemukan bahwa sang pembunuh juga diduga melakukan pembunuhan terhadap seseorang sebelumnya. Foto orang yang diduga dibunuh tersebut terpampang di Koran Tempo hari Jumat (18/7) lalu, dan disebutkan namanya Ariel S. Sitanggang. Ia diberitakan menghilang tanggal 23 April 2008 saat pergi ke Surabaya.

Sekilas ingatan saya melayang ke masa dimana saya masih mengenakan baju seragam putih dan celana biru dengan tinggi lima senti di atas lutut. Pada saat itu saya mengenal seorang senior beragama Kristen yang terbilang cukup pendiam. Kami beberapa kali bersama dalam kelas keagamaan, dan terlibat dalam pelaksanaan acara Natal maupun Paskah. Namun seingat saya, jarang sekali bisa berbicara dengan dia. Orang itu adalah Ariel. Dalam benak saya, tidak ada penilaian yang buruk terhadap Ariel, bahkan saya sempat membayangkan Ariel adalah orang yang cukup cerdas dan bijaksana, termasuk dalam bergaul. Hmm, tidak terasa, saya berpikir waktu sudah berjalan cukup lama.

Ketika lamunan mulai menghilang, saya coba kembali fokus kepada artikel hilangnya Ariel di Surabaya dan diduga dibunuh. Saat itu saya hanya bisa berharap bahwa dia masih hidup. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keluarganya sangat cemas terhadap hilangnya Ariel. Meski cemas, mereka tetap berharap kepada Tuhan bahwa Ariel masih hidup, hanya bersembunyi di suatu tempat.

Tapi ternyata kehendak Tuhan lain. Hari ini saya membaca di internet bahwa Ariel ditemukan polisi dikubur di belakang rumah si pembunuh yang rencananya akan direnovasi. Ariel diberitakan memang merupakan agen properti, dan dikatakan sebelumnya cukup dekat dengan si pembunuh tadi.

Saya harus mengatakan bahwa saya sedih mendengar Ariel meninggal karena dibunuh. Saya hanya bisa berharap dan berdoa kiranya Tuhan memberikan penghiburan yang sejati dan kekal kepada keluarga Ariel. Kadang kita memang tidak bisa mengerti maksud Tuhan. Tapi banyak pengalaman membuktikan bahwa setiap orang yang bergantung kepada Tuhan diberikan kemampuan melewati pergumulan, termasuk masa-masa duka. Seperti kata Rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.

Selamat jalan, Riel… Selamat jalan…

→ Tinggalkan KomentarKategori: lain-lain
Ditandai: ,

Jejak di Jalan

16 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jejak di jalan setapak itu buktinya.
Bahwa pernah ada masa yang penuh dengan tawa.
Mungkinkah kata-kata indah kembali seperti adanya?
Bagai air sejuk yang menghibur jiwa?

(18.2.06)

→ Tinggalkan KomentarKategori: pujangga malam
Ditandai:

Cinta yang Tertanam

16 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Wahai pangeran hati,
tak bisa kuuntai indah puisi.
Namun kurindu nuranimu sadari,
ada sebentuk cinta tertanam untukmu
dalam hati.

(16.6.06)

→ Tinggalkan KomentarKategori: pujangga malam
Ditandai:

Puisi di Undangan

16 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Senyummu menggetarkan hatiku,
Ketika kusadar bahwa dirimu,
Adalah jawaban atas doaku.
Kaulah anugerah,
Yang mengalirkan ungkapan syukurku

Kini,
Kuikat hati dengan sumpah suciku
Agar menyatu jiwamu dan jiwaku
Mengarungi perjalanan baru ke arah kekekalan
Melewati pelangi dan badai dalam kasih setiaNya
Hingga Ia membawa kita menyentuh senja
Sebagaimana Ia membuat segala sesuatu
Indah pada waktuNya

-aji&maria-

(10.6.07)

→ Tinggalkan KomentarKategori: pujangga malam
Ditandai: ,

Asa yang Retak

16 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Rekatkan asaku yang mulai pecah, ya Penjunan Agung
Kuatkan hati ini, dan teguhkan lutut yang goyah.
Ketika beban mulai terasa berat,
kiranya kasihMu menguatkan iman.

(8.11.06)

→ Tinggalkan KomentarKategori: pujangga malam
Ditandai: , ,

Hello world!

27 Mei 2008 · 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

→ 1 CommentKategori: Uncategorized