Sejak minggu yang lalu saya cukup tertarik dengan berita pembunuhan mutilasi di Koran Tempo, dan mengikuti perkembangannya setiap saat melalui koran maupun internet. Menarik karena pembunuhan tersebut dilakukan sangat sadis dengan memotong-motong bagian tubuh korban, dan ahli forensik menunjukkan bagaimana emosi si pembunuh saat mengeksekusi korbannya melalui bentuk potongan-potongan tubuh korban. Lebih menarik lagi karena pembunuhan itu dilakukan seorang gay yang bermaksud membela pacarnya, sebuah dampak cinta platonis pasangan sejenis.
Namun ketertarikan itu berubah menjadi sebuah keprihatinan ketika saya menemukan bahwa sang pembunuh juga diduga melakukan pembunuhan terhadap seseorang sebelumnya. Foto orang yang diduga dibunuh tersebut terpampang di Koran Tempo hari Jumat (18/7) lalu, dan disebutkan namanya Ariel S. Sitanggang. Ia diberitakan menghilang tanggal 23 April 2008 saat pergi ke Surabaya.
Sekilas ingatan saya melayang ke masa dimana saya masih mengenakan baju seragam putih dan celana biru dengan tinggi lima senti di atas lutut. Pada saat itu saya mengenal seorang senior beragama Kristen yang terbilang cukup pendiam. Kami beberapa kali bersama dalam kelas keagamaan, dan terlibat dalam pelaksanaan acara Natal maupun Paskah. Namun seingat saya, jarang sekali bisa berbicara dengan dia. Orang itu adalah Ariel. Dalam benak saya, tidak ada penilaian yang buruk terhadap Ariel, bahkan saya sempat membayangkan Ariel adalah orang yang cukup cerdas dan bijaksana, termasuk dalam bergaul. Hmm, tidak terasa, saya berpikir waktu sudah berjalan cukup lama.
Ketika lamunan mulai menghilang, saya coba kembali fokus kepada artikel hilangnya Ariel di Surabaya dan diduga dibunuh. Saat itu saya hanya bisa berharap bahwa dia masih hidup. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keluarganya sangat cemas terhadap hilangnya Ariel. Meski cemas, mereka tetap berharap kepada Tuhan bahwa Ariel masih hidup, hanya bersembunyi di suatu tempat.
Tapi ternyata kehendak Tuhan lain. Hari ini saya membaca di internet bahwa Ariel ditemukan polisi dikubur di belakang rumah si pembunuh yang rencananya akan direnovasi. Ariel diberitakan memang merupakan agen properti, dan dikatakan sebelumnya cukup dekat dengan si pembunuh tadi.
Saya harus mengatakan bahwa saya sedih mendengar Ariel meninggal karena dibunuh. Saya hanya bisa berharap dan berdoa kiranya Tuhan memberikan penghiburan yang sejati dan kekal kepada keluarga Ariel. Kadang kita memang tidak bisa mengerti maksud Tuhan. Tapi banyak pengalaman membuktikan bahwa setiap orang yang bergantung kepada Tuhan diberikan kemampuan melewati pergumulan, termasuk masa-masa duka. Seperti kata Rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.
Selamat jalan, Riel… Selamat jalan…
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.