Minor Thoughts

Pengaruh Buku Novel

7 Agustus 2008 · 1 Komentar

Sudah beberapa hari ini saya kembali tergoda untuk membaca Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa. Alhasil, tiap malam saya mulai membaca beberapa bab sebelum tidur. Hingga tadi malam, saya sudah menyelesaikan membaca hampir 200 halaman pertama dari Buku Pertama. Bab terakhir yang saya baca adalah saat dimana Takuan (biarawan Zen) berhasil membujuk Takezo untuk menyerah dan mengikatnya di pohon kriptomeria selama dua puluh hari. Hal yang membuat saya kembali tertarik adalah bagaimana Takuan berani berargumen dengan Takezo dan Aiko Tanzaemon, kapten samurai berjenggot jarang yang ditugasi menangkap Takezo. Argumen Takuan benar-benar “mengena sasaran” dan mampu “menyerang” Takezo dan Tanzaemon tanpa menggunakan kekerasan sama sekali. Hanya bermodalkan keberanian menyampaikan kebenaran. Sampai di situ, saya berpikir “wah, keren nih”. Betapa kebenaran itu seumpama pedang bermata dua, yang tajam dan menusuk ke dalam hati. Betapa sakitnya benar-benar membuat hati seseorang bisa hancur lebur, remuk redam, pecah berkeping-keping (walah…).

Sebenarnya hingga saya bangun dan berangkat kerja tadi pagi, bayangan kata-kata, emosi, dan gambaran tentang Takuan masih menempel di kepala saya. Hingga akhirnya terjadilah sesuatu yang membuat saya seperti merasa dirasuki oleh “roh” Takuan.

Dalam perjalanan ke kantor, seperti biasa saya dan istri “membunuh” jenuh macet Jakarta dengan ngobrol. Obrolan kami sampai pada bagian yang menceritakan kondisi salah satu anggota keluarga besar kami. Istri saya cerita bawa saudara kami itu merasa keberatan dengan pernyataan dari anggota keluarga lain yang terkesan mendiskreditkan keluarganya. Saya dan istri menyadari bahwa latar belakang keluarga orang yang kami bicarakan memang berbeda dengan keluarga kami berdua. Namun saya dan istri memiliki penilaian yang berbeda dalam hal ini. Saya lebih memilih menyatakan empati kepada saudara kami tadi, sementara istri saya lebih memilih untuk mengabaikan apa yang kira-kira dirasakan saudara kami tadi, mengingat fakta-faktanya memang menunjukkan hal yang berbeda dengan kebiasaan dan kondisi yang ada dalam keluarga kami.

Nah, entah bagaimana, saya pun seperti ‘dirasuki’ ‘roh’ Takuan pada waktu menyampaikan opini saya kepada sang istri tercinta. Dengan semangat tinggi saya menyampaikan tentang perlunya memahami latar belakang kehidupan saudara saya tadi dan keluarganya. Memahami penilaian dirinya terhadap keluarga besarnya. Memahami akan kebanggaan yang tersisa dalam dirinya. Sehingga akhirnya saya sampaikan kepada istri kesimpulan bahwa kita perlu mempertimbangkan dirinya lebih luas sebelum menyampaikan pernyataan yang akan membuat dia salah mengerti, atau bahkan menimbulkan sakit hati dalam dirinya. Dampaknya jelas, tambah saya, bahwa bisa jadi saran-saran yang disampaikan kepadanya akan tidak efektif dan kontra produktif.

Namun ternyata ‘roh’ tadi membuat saya jadi berlebihan dalam menyampaikan opini, sehingga secara tidak sadar menyentuh pribadi istri saya dan membuat dia tersinggung. Meskipun saya sudah mengklarifikasi, namun nasi sudah menjadi bubur. Sepanjang perjalanan setelah menurunkan dia dikantornya dan menuju ke kantor saya, tak habis-habisnya saya berpikir kenapa saya jadi seperti itu. Pendekatan yang “bukan gue banget”. Namun saya tetap berpikir bahwa paling tidak ada beberapa poin yang saya anggap benar sudah saya sampaikan kepada istri dan mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan dirinya (hehe… sampai saat saya menulis ini pun saya masih nyengir-nyengir sendiri memikirkan kebodohan saya… maap ya, istriku, hehe…).

Kembali ke Novel Musashi tadi.

Kadang saya merasa betapa alam bawah sadar kita begitu rapuh. Mudah terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang kita alami dalam jangka waktu relatif pendek. Kita bisa terpengaruh oleh apa yang kita baca, tokoh dalam novel, perkataan, gaya bahasa, bayangan tingkat intelektualitas tokoh dalam novel, atau bahkan penulisnya (termasuk penulis-penulis buku non-fiksi).

Bahkan kita bisa terpengaruh oleh hal-hal lain selain buku. Contoh yang mudah adalah kebiasaan saya setelah bermain game, khususnya balapan ala Need for Speed yang kadang-kadang saya mainkan. Biasanya setelah main game itu, kebiasaan menyetir saya bisa berubah dari yang kalem menjadi seradak-seruduk ala sembalap. Bukan sekali dua kali saya mengalami hal tersebut.

So, my minor thought is…

Jika seseorang mengalami kejadian yang baik-baik, seperti bertemu dengan orang yang selalu berbicara baik, nggak nggosip, nggak bicara hal-hal yang negatif, selalu bersikap sopan, ramah, suka menolong (halah), dsb; atau dengan kata lain terpengaruh suasana dan hal-hal baik yang ada disekitarnya, maka bisa jadi alam bawah sadarnya terpengaruh pula oleh hal-hal yang baik. Hmm… alangkah senangnya menjadi orang seperti itu.

Tapi akhirnya saya pikir lagi, bahwa lebih baik dan lebih menyenangkan menjadi orang yang bisa memberi pengaruh positif kepada orang lain. Meskipun saya menyadari menjadi orang seperti itu bukan hal yang mudah. Tapi paling tidak ketika kita berani mencoba, maka ada nilai lebih yang sudah kita dapat. Iya kan?

Kategori: keluarga
Ditandai: , , ,

1 response so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar