Jika kita membaca sekilas dari judul di atas pasti akan terbersit pertanyaan “ah, mana mungkin ada sisi positif dari sebuah penderitaan?” Biasanya penderitaan menimbulkan kesedihan, kesengsaraan, perasaan atau batin yang tertekan, dan sebagainya. Memang sulit untuk melihat sisi lain dari penderitaan yang membuat kita merasa sengsara. Tapi mungkin pemikiran minor ini dapat menjadi renungan yang dapat menambah cara pandang kita terhadap penderitaan.
Dalam Injil Lukas 17:11-19 tertulis kisah yang mungkin pernah kita dengar, yaitu tentang sepuluh orang kusta di perbatasan Samaria dan Galilea. Kesepuluh orang kusta ini berteriak kepada Yesus dari kejauhan mohon agar mereka disembuhkan dari penyakit kusta yang membuat mereka menderita. Ketika Yesus memerintahkan mereka untuk pergi kepada para imam, sembuhlah mereka dari penyakit kusta. Namun sayangnya, dari sepuluh orang tersebut hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur dan berterima kasih. Satu orang itu adalah orang Samaria, sementara sembilan lainnya adalah orang Yahudi.
Tema yang biasa diangkat dari perikop tersebut adalah betapa manusia seringkali lupa kepada Allah untuk mengucap syukur mana kala kita mendapati apa yang kita inginkan. Tetapi ternyata ada hal lain yang juga menarik untuk dipelajari bersama dari perikop ini. Secara tegas Lukas menuliskan bahwa orang yang kembali untuk mengucap syukur adalah orang Samaria yang di dalam Alkitab tercatat sebagai bangsa yang dibenci oleh bangsa Yahudi. Bahkan ketika orang Yahudi tiba-tiba melihat orang Samaria dari kejauhan, mereka akan berjalan memutar menghindari orang Samaria tersebut. Namun melihat kepada sepuluh orang kusta tersebut, justru mereka bisa hidup bersama, berupaya untuk saling tolong menolong untuk menopang satu sama lain dalam penderitaan yang mereka alami.
Sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama, khususnya kitab Imamat 13:45-46 bahwa ada perintah agar orang yang menderita kusta haruslah berpakaian cabik-cabik, mengurai rambutnya, menutup bagian bawah wajahnya, dan berseru: “Najis! Najis!” Belum lagi adanya perintah bahwa selama menderita kusta ia harus tinggal terasing di luar perkemahannya, tidak berkeliaran dekat orang-orang yang sehat.
Bisa kita bayangkan betapa menderitanya orang-orang kusta pada masa itu. Ketika mereka harus terpisah dari keluarga, terpisah dari lingkungan yang normal, bahkan harus hidup secara mandiri dalam kesusahan mereka. Belum lagi ketika mereka harus menghadapi sikap orang normal yang seolah-olah jijik terhadap mereka, padahal mungkin sebelumnya orang tersebut memiliki kedudukan sosial yang cukup tinggi. Dengan demikian kehidupan mereka menjadi terisolir dan secara tidak langsung diakui sebagai masyarakat kelas dua.
Kembali kepada perikop tersebut, sekali lagi Lukas menegaskan bahwa di dalam situasi yang membuat orang-orang kusta mengalami penderitaan lahir dan batin, segala perbedaan yang muncul ketika mereka sehat menjadi lenyap. Tidak ada orang Yahudi atau orang Samaria. Tidak ada perbedaan keyakinan. Tidak ada perbedaan pandangan politik. Tidak ada perbedaan budaya. Tidak ada perbedaan suku dan ras. Hanya ada rasa kebersamaan untuk saling menopang satu dengan yang lain. Hanya ada satu tujuan untuk dapat bertahan hidup dalam situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka. Di dalam penderitaan, mereka memiliki kebersamaan yang kuat tanpa membeda-bedakan keyakinan, budaya, politik, dan sebagainya. Inilah sisi positif dari sebuah penderitaan.
Menarik juga untuk direnungkan bahwa hal ini ternyata tidak hanya terjadi dalam kehidupan manusia namun juga dalam dunia hewan. Dalam beberapa film yang mungkin pernah kita lihat, hewan-hewan dari yang buas sampai yang jinak akan bersama-sama melarikan diri ke tempat yang lebih aman ketika mereka mendeteksi adanya bencana alam yang akan memusnahkan mereka. Penderitaan mendatangkan rasa kebersamaan.
Pada masa lalu, bangsa Indonesia merasakan penderitaan akibat penjajahan Belanda dan Jepang, yang akhirnya melahirkan rasa ’senasib sepenanggungan’. Sumpah Pemuda merupakan bukti nyata kebutuhan untuk bersatu dan berjuang bersama mengalahkan penindasan oleh penjajah dan memperoleh kemerdekaan tanpa memandang perbedaan suku, ras, dan keyakinan.
Hal yang lebih sederhana juga dapat kita lihat dalam dunia mahasiswa dimana dikenal adanya Ospek yang harus dijalani para mahasiswa baru. Biasanya pada saat itu para mahasiswa baru bersatu bahu membahu untuk memenuhi semua persyaratan yang diajukan oleh para senior mereka, bahkan persyaratan yang aneh sekalipun. Contoh lain lagi adalah rasa kebersamaan yang muncul ketika kita berada di luar negeri, jauh dari orang-orang yang memiliki budaya dan bahasa yang sama. Biasanya kebersamaan kuat muncul pada komunitas sebangsa pada sebuah negara asing agar mereka bisa mengatasi kerinduan terhadap negeri asal mereka.
Sayangnya pada masa sekarang sering kita lihat justru perbedaan keyakinan, politik, budaya membuat jurang sosial menjadi semakin terpisah. Rasa kebersamaan dan kesatuan yang dulu digaungkan para pejuang juga telah mengalami degradasi yang menurun tajam. Kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan bermasyarakat, hubungan dalam keluarga, akhirnya menjadi rusak karena kurangnya rasa kebersamaan. Timbulnya rasa curiga, merasa diri paling benar, dan penghakiman sepihak terhadap seseorang atau sekelompok orang pada akhirnya membawa dampak kepedihan dan kesengsaraan terhadap orang atau sekelompok orang tadi. Kita pun bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berperan dalam intrik yang menyengsarakan orang atau sekelompok orang tersebut. Tanpa ada klarifikasi kebenaran kita mencurigai orang lain, menuduh dan kadang kita juga meneror orang dengan asumsi kita yang sempit dan masih jauh dari kebenaran sebuah masalah. Ironisnya kita senang ketika berhasil membuat orang lain menderita.
Namun bukan berarti kita harus mengalami penderitaan yang sama dengan orang lain supaya kita bisa memiliki rasa kesatuan dan kebersamaan. Bukankah seharusnya kita menjadi orang-orang yang bisa merasakan penderitaan orang lain? Memiliki empati untuk melihat penderitaan yang orang lain rasakan. Bukankah ketika kita hidup di dunia pada dasarnya kita juga mengalami penderitaan, terlepas dari kerumitan penderitaan yang kita alami? Bahkan ada ajaran yang menyatakan kita perlu untuk menangis bersama orang yang menderita dan tertawa bersama orang yang bersukacita.
Bayangkan apabila kita mampu berempati terhadap penderitaan orang lain. Bayangkan apabila kita mampu terbuka dan menerima perbedaan-perbedaan yang terjadi di sekitar kita. Tidak terburu-buru menuduh dan mencurigai orang lain. Tidak menghakimi dan membuat orang lain sengsara. Bukankah hidup ini menjadi lebih indah? Bukankah dengan demikian kita mampu menghilangkan perbedaan-perbedaan, cara pandang sempit, dan akhirnya berdampak pada kuatnya rasa kebersamaan, kesatuan, dan persaudaraan? Bukankah kita bisa mewujudkan kedamaian dalam lingkungan kita, bahkan terlebih dalam hati kita?
But, well, that’s my minor thought… ah, seandainya…
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.